Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 September 2021

Para Tokoh Berjasa dalam Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi, Korban G30S/PKI

Saksi Penunjuk dan Penemu Sumur Lubang Buaya

AGEN Polisi Tingkat II Sukitman, seorang saksi mata berhasil selamat dari penangkapan komplotan G30S, bercerita mengenai lokasi sumur tua tempat para perwira Angkatan Darat dibunuh dan dikubur. Dia menunjuk desa Lubang Buaya, daerah Pondok Gede, saat tahun 1965 masih masuk wilayah Bekasi. Informasi Sukitman langsung direspon RPKAD. “Tong, di situ tempat latihan pemuda rakyat dan ormas PKI lainnya. Di situ kamu periksa semua. Kalau mereka dibunuh, juga di sekitar tempat itulah adanya,” ujar Feisal Tanjung, atasan Letnan Dua Sintong Panjaitan.

3 Oktober 1965, Feisal Tanjung mengirim tiga peleton RPKAD. Sintong menjadi komando Peleton 1. Berpegang pada informasi Sukitman mengenai lokasi sumur tua telah ditutupi sampah, anggota regu pimpinan Sintong lantas menyisir lokasi. Mereka mendapat informasi warga sekitar tentang keberadaan satu lubang, baru saja ditimbun dan tertutup sampah serta ditanami pohon pisang.

“Jangan-jangan para korban itu ada di sana”, batin Sintong. “Coba gali itu”, perintahnya, tulis Hendro Subroto dalam biografi Sintong panjaitan berjudul Perjalanan Seorang Prajurut Para Komando.

Lokasi bertanda pohon pisang dengan timbunan sampah pun digali. Di kedalaman dua meter, muncul potongan-potongan kain warna merah, hijau, dan kuning.

Seorang warga sekitar menawarkan bantuan tenaga seorang penggali kubur untuk melanjutkan penggalian. Sintong menerima tawaran itu, karena pasukannya nampak kepayahan setelah menggali empat meter.

Saat kedalaman delapan meter, mulai muncul bau anyir mayat. Dari dalam lubang, seorang penduduk berteriak minta ditaikan lantaran tak kuat bau busuk. Seorang RPKAD kemudian masuk menggantikan melihat sebuah kaki mencuat.

Sintong mengirim kabar melalui radio ke pimpinannya. Akhirnya pukul 22.00, Soeharto memerintahkan Sintong untuk menghentikan penggalian karena dirinya akan datang langsung keesokan harinya.

Sintong berpikir untuk menyiasati bau, pasukan hendak turun ke lubang harus memakai tabung oksigen. Dia pun meminjam peralatan selam dari Korps Komando AL.

Penggali Sumur Lubang Buaya

Sebuah video wawancara 8 warga yang diminta untuk menggali sumur Lubang Buaya tempat dibuangnya jenazah para Jendral korban PKI, beberapa waktu lalu mencuat seiring tanggal peringatan G30S PKI yang jatuh tepat hari ini Rabu 30 September 2020. Ketujuh pahlawan revolusi yang menjadi korban yakni, Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.

Mereka disiksa, ditembak, kemudian mayatnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Peristiwa pembunuhan para jenderal itu dikenang dengan Gerakan 30 September atau G30S/PKI .

Namun beberapa hari kemudian mayat pahlawan revolusi ini pun ditemukan. Usai delapan warga sekitar yang membantu menggali sumur Lubang Buaya tempat para Jenderal Korban PKI dibuang.

Sebagaimana video yang diunggah oleh akun Kurator Museum di YouTube menampilkan wawancara kepada salah satu penggali makam yakni Yusuf pada tahun 1998.

Disitu Yusuf bercerita bahwa saat menggali Lubang Buaya dirinya masih berusia 16 tahun. Awalnya pada pulul 15.00 WIB, Yusuf yang merupakan anggota Hansip diminta Lurah untuk membantu memberulkan jembatan dan tak tahu jika bakal menggali Lubang Buaya.

Dengan membawa cangkul Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi. Namun sesampainya di lokasi ia melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebon.

“Disitu saya lihat ada bang Ambar, Suparyono, Mahmud, Mawih, saya dateng ama Pane,” ucap Yusuf sebagaimana dikutip Okezone dari YouTube Kurator Museum.

Setelah menggali kebun bersama tujuh temannya, ditemukanlah sumur selebar 4 meter yang sebelumnya ditumpuk tanah. Kemudian mereka diperintahkan untuk tentara berbaret merah agar tetap menggali sumur itu.

Sampai akhirnya mereka menggali dan menemukan isi sumur berupa sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau. “Terus ada serombongan datang bilang persisnya di Sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.

Usaha yusuf dan bersama terus menggali sumur tersebut sampai akhirnya waktu gelap. Diantara mereka pun sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

“Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,” jelasnya.

Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi.

“Dan dari kejauhan kita melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,” tandasnya.

Para tentara akhirnya pergi dari Lubang Buaya usai berhasil menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur

 

Bapak Yusuf

Bapak Suparyono

Bapak Mahmud

Bapak Asmawi

Bapak H. Ambar

Pengangkat Jenazah Pahlawan Revolusi

TEMPO.COSurabaya - Pembantu Letnan Dua Marinir (Purnawirawan) Sugimin, 79 tahun, mengatakan baru mendapat pengakuan pemerintah sebagai salah satu petugas pengambil jenazah Pahlawan Revolusi dari sumur Lubang Buaya setelah 15 tahun. Pengakuan itu diberikan oleh TNI Angkatan Darat dalam bentuk piagam penghargaan pada 18 Oktober 1980. “Saya sudah tidak punya harapan bakal diakui pemerintah, karena awalnya saya mengira peran kami di Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965 itu akan dihapus,” kata Sugimin saat ditemui di rumahnya, Jalan Ketintang Baru XII Nomor 27 Surabaya, Kamis, 21 September 2017.

Sugimin, anggota Batalion Intai Amfibi Korps Komando (KKO) TNI Angkatan Laut Karangpilang, Surabaya, merupakan satu dari 12 orang yang dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, untuk mengangkat jenazah tujuh pahlawan revolusi dari dalam sumur tua. “Saya diajak ke Lubang Buaya karena pernah menolong orang kecebur sumur di Yogyakarta ,” ujarnya.

Selain Sugimin ada Winanto, M. Sutarto, Sumarno (dokter gigi), Kho Tjioe Liong (dokter tentara), Saparimin, J. Kandouw, A. Sudardjo, Hartono, Samuri, I. Subekti dan Baharudin. Sugimin mengaku masuk sekali  saja ke dalam sumur sedalam 15 meter dan berdiameter 75 sentimeter itu untuk mengikat kaki salah satu jenazah dengan tambang.  

Namun,  Sugimin  sudah sulit mengingat jenazah siapa yang diikatnya, juga urutan ke berapa ia masuk liang sumur. “Yang masih saya ingat, jenazah pertama yang ditarik ke atas ialah Pierre Tendean dan yang terakhir DI Panjaitan. Semua jenazah dalam keadaan utuh, tidak ada yang matanya dicungkil atau kemaluannya dipotong seperti cerita yang beredar,” kata Sugimin yang kala itu berusia 27 tahun dan berpangkat kopral.

Menurut Sugimin, proses evakuasi jenazah Ahmad Yani, Suprapto, S. Parman, DI Panjaitan, Sutoyo Siswomihardjo, MT Haryono dan Pierre Tendean, dimulai pukul 11.00 dan berakhir sekitar pukul 15.00.  Pangkostrad Letnan Jenderal Soeharto, Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) Kolonel Sarwo Edhie Wibowo serta Letnan Dua Sinton Panjaitan memantau jalannya evakuasi.

“Jenazah dimasukkan peti dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Gatot Subroto menggunakan Panser. Setelah semua mayat terangkat, lokasi disterilkan, tidak boleh ada yang mendekat. Dijaga pasukan baret merah,” kata dia.

Keesokan harinya jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dipimpin oleh Presiden Sukarno. Sugimin dan kawan-kawan tidak hadir dalam pemakaman itu karena tidak diundang. Sejak itu dia kembali ke kesatuannya di Karangpilang. Baru pada 1980, atau enam tahun sebelum pensiun, dia dipanggil ke Markas Besar TNI Angkatan Darat untuk menerima penghargaan atas jasa-jasanya dalam mengangkat jenazah pahlawan revolusi.

Sugimin menceritakan, pada saat menerima penghargaan dari TNI AD pada 18 Oktober 1980, anggotanya tidak lengkap. Dua di antaranya, kata dia, telah meninggal.

Ia mengaku bangga menerima piagam penghargaan yang ditandatangani Presiden Soeharto. “Semula saya mengira peran kami sudah dihapuskan, karena yang mengevakuasi kok Angkatan Laut, bukan Angkatan Darat,” ujar kakek sembilan cucu ini.










Proses pengangkatan

Pukul 03.00, Winanto, Komandan Kompi Para Amphibi, bersama 8 penyelam dan dua dokter, Kho Tjio Ling dan Sumarno tiba di Lubang Buaya. Semula mereka dilarang masuk oleh Sintong, sebab semua akan diselesaikan oleh RPKAD.

Dalam perkembangannya, tak ada satu pun anggota RPKAD sanggup menahan bau sembari menggendong tabung oksigen. Sintong pun mengijinkan KKO masuk lokasi.

Pukul 10.00, Soeharto beserta rombongannya seperti Mayjend Sugandhi (Puspen Hankam), dan Ibnu Subroto (Puspen AD) datang ke lokasi penggalian.

Berikut detik pengangkatan, nama anggota pengangkat, dan jenazah;

12.05. Kopral Anang, anggota RPKAD, mengangkat jenazah Lettu CZi Pierre Andreas Tendean, ajudan Nasution.

12.30. Kopral Subekti, dari KKO, mengikat tali kepada jenazah dan mengangkat dua sekaligus yaitu, Mayjend S. Parman dan mayjend Suprapto.

12.55. Kopral Hartono, dari KKO, mengikat tali dua jenazah dan jenazah terangkat Mayjend M.T Haryono dan Brigjend Sutoyo.

13.30. Serma Suparimin, dari KKO, mengikat satu jenazah Letjend Ahmad Yani.

Selewat siang tengah hari, semua penyelam dari KKO maupun RPKAD sudah kehabisan tenaga bahkan beberapa anggota keracunan bau mayat. Maka Kapten Winanto, Komandan Kompi Intai Amphibi, turun langsung dan dapat mengangkat jenazah terakhir, berada di dasar sumur, Brigjend DI Pandjaitan.

Keenam jenazah itu pun dibaringkan dalam peti dari Rumah Sakit Pusat AD.


Diolah dari berbagai sumber,:

https://nasional.tempo.co/read/911723/pengangkat-jenazah-dari-lubang-buaya-1965-terima-penghargaan-1980/full&view=ok

https://merahputih.com/post/read/detik-detik-pengangkatan-jenazah-perwira-angkatan-darat-korban-g30s

https://nasional.okezone.com/read/2020/10/02/337/2287225/kesaksian-penggali-jasad-pahlawan-revolusi-di-lubang-buaya-potongan-kain-merah-hingga-kesurupan

IKD 18MEI2025

Kehiatan Silaturrohim dan Arisan rutin bulanan,  Ikatan Keluarga H. Dahlan (IKD) Buaran berangsung pada hari Ahad Kliwon , 18 Mei 2025 berte...